Tafsir dan Terjemah Surat Al Fatihah ayat 1

لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ. وَنُصَلِّيْ وَنُسَلِّمُ عَلَى خَيْرِ اْلأَنَامِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ



(1) بِسْمِ  اللَّـهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (1) 



  • Tafsir dan Terjemah Surat Al Fatihah ayat 1
Para Ulama bersepakat bahwa بِسْمِ  اللَّـهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ merupakan salah satu ayat dari surat An-Naml yaitu pada ayat ke 30. Kemudian terjadi perselisihan diantara para ulama mengenai ayat pertama dari surat Al-Fatihah ini yaitu apakah بِسْمِ  اللَّـهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ merupakan ayat tersendiri pada permulaan tiap-tiap surat ataukah hanya ditulis pada tiap-tiap permulaan surat saja. Banyak terjadi perselisihan diantara ulama safa maupun khalaf ketika dihadapkan kepada persoalan ini.

Namun walaupun ada khilaf mengenai 'Bismillahirrahmanirrahim' apakah ia merupakan satu ayat dalam setiap surah atau ia merupakan satu ayat al- Qur'an yang dimulakan dengannya ketika membaca setiap surah, namun menurut pendapat yang arjah (terkuat) ia adalah satu ayat di dalam Surah al- Fatihah dan dengannya ia dikirakan tujuh ayat. Dan di sana ada suatu pendapat yang mengatakan bahawa yang dimaksudkan dengan firman Allah 'Azzawajalla: 
وَلَقَدْ ءَاتَيْنٰكَ  سَبْعًا  مِّنَ  الْمَثَانِى  وَالْقُرْءَانَ  الْعَظِيمَ

“Sesungguhnya Kami telah kurniakan kepadamu tujuh ayat dari ayat ayat yang diulang-ulangkan bacaannya dan al-Qur'anul 'Azim" ﴾ Al Hijr:87 ﴿


adalah Surah al-Fatihah yang disifatkan sebagai surah yang mempunyai tujuh ayat dan sebagai "al-Mathani" karena ia diulang-ulangkan bacaannya di dalam solat. Dan merupakan salah satu perintah Allah bahwa kita harus memulai membaca Al-Quran (khususnya) dan melakukan sesuatu yang baik (umumnya) harus dimulaii dengan nama Allah.

(1) اقْرَأ  بِاسْمِ  رَبِّكَ  الَّذِى خَلَقَ 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, ﴾ Al 'Alaq:1 ﴿


Adab atau perintah ini amat sesuai dengan dasar kefahaman Islam yang agung, yang menganggapkan Allah bersifat Maha Awal dan Maha Akhir, Maha Zahir dan Maha Batin. Allah S.W.T. adalah Zat yang maujud yang sebenarnya dan seluruh maujud yang lain mendapat kewujudan mereka dari kewujudan Allah dan segala permulaan yang lain adalah berpangkal dari kewujudan Allah, kerana itu amatlah wajar segala permulaan, segala harakat atau tindakan dan segala tujuan itu dimulakan dengan nama-Nya. Allah SWT sifatkan diri-Nya di permulaan dengan sifat-sifat ar- Rahman "Maha Penyayang" dan ar-Rahim "Maha Pengasih" iaitu dua sifat
yang mencakup segala pengertian, kasih sayang dan kasihan belas dan segala keadaannya. Hanya pada Allah SWT saja terkumpul dua sifat ini.

Begitu juga hanya Allah saja yang wajar disifatkan dengan ar-Rahman "Maha Penyayang". Setiap hamba Allah boleh disifatkan dengan sifat ar- Rahim, tetapi tidak boleh disifatkan dengan sifat ar-Rahman dari segi kepercayaan dan lebih tidak wajar lagi diberikan kedua sifat itu padanya(manusia). Walaupun terdapat perselisihan pendapat tentang pengertian dua sifat ini, yaitu manakah di antara kedua-duanya yang mempunyai pengertian kasih sayang dan belas kasih yang lebih luas, namun perselisihan itu bukanlah yang harus kita bahas, malah kita hanya akan membuat kesimpulan saja dari pembahasan itu bahwa kedua sifat ar-Rahman dan ar-Rahim adalah meliputi segala pengertian kasih sayang dan belas kasih juga meliputi segala keadaan dan bidangnya. Jika memulakan sesuatu dengan nama Allah yang mengandung maksud mentauhidkan Allah dan beradab sopan dengan-Nya itu merupakan dasar pokok dalam kefahaman Islam, maka pencakupan segala pengertian kasih sayang dan belas kasih dengan segala keadaan dan bidangnya dalam dua sifat ar-Rahman dan ar-Rahim itu merupakan dasar yang kedua di dalam kefahaman ini dan ia juga menggariskan hakikat hubungan yang wujud di antara Allah dengan para hamba-Nya.

Setelah dimulakan dengan nama Allah yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih, maka diiringi pula dengan menghadap Allah serta mempersembahkan kepada-Nya segala sanjungan dan pujian dan menyifatkan-Nya sebagai Tuhan yang memegang teraju Rububiyah yang mutlak terhadap semesta 'alam.


Kemudian sebagai tambahan mengenai perbedaan pendapat para ulama akan letak lafadz بِسْمِ  اللَّـهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ pada Al-Quran, bahwa ternyata inn juga berpengaruh pada tata cara kita shalat ketika sedang membaca surat  dalam Al-Quran dan Al-Fatihah. Maka dari itu saya akan sebutkan kepada anda beberapa hadits mengenai hal ini.

  • Abu Hurairah r.a. ketika memberi contoh salat Nabi saw. membaca keras-keras Bismillahirrahmanirrahim. (HR. an-Nasa'i, Ibn Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim).
  • Imam Syafii dan al-Hakim meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Muawiyah ketika sembahyang di Madinah sebagai imam, tidak membaca Bismillahirrahmanirrahim, maka ditegur oleh sahabat Muhajirin yang hadir, kemudian ketika sembahyang lagi ia membaca Bismillahirrahmanirrahim.
  • Adapun dalam mazhab Imam Malik tidak membaca Basmalah berdasarkan hadis Aisyah r.a. yang berkata, "Biasa Rasulullah saw. memulai salat dengan takbir dan bacaannya dengan Alhamdu lillahi rabbil alamin. (HR. Muslim).
  • Anas r.a. berkata, "Saya sembahyang di belakang Nabi saw., Abu Bakar, Umar, Utsman dan mereka semuanya memulai bacaannya dengan Alhamdu lillahi rabbil alamin". (Bukhari, Muslim).

Sumber Jurnal Pendidikan Agama Islam : Tafsir Ibnu katsir & Tafsir Fi Zilalil Quran (Sayyid Qutb)


0 komentar:

Post a Comment

Home - About - Order - Testimonial
Copyright © 2010 Herbal Orimarru | Pusat Grosir Orimarru | Agen Orimarru All Rights Reserved.